Di sudut pusat kota, ada sebuah kedai tua tempat aroma kopi biasanya bercampur dengan suara mesin tik yang sibuk. Di sanalah para jurnalis lapangan dan penulis koran harian biasanya berkumpul untuk menyusun narasi perjuangan nusantara.
Namun, belakangan ini, suasana mendadak sunyi. Meja-meja itu kosong. Kursi-kursi kayu yang biasanya diduduki oleh para penulis vokal kini mendingin. Nama-nama mereka yang biasanya menghiasi kolom utama tiba-tiba raib dari daftar koran harian. Warga mulai berbisik penuh tanya di tengah kebingungan: " Ke mana mereka? Apakah mereka mengalami kecelakaan, atau sengaja dihilangkan "
Kabar yang beredar sangat getir. Beberapa rekan kita dinyatakan "hilang" karena dianggap melanggar hukum kedaulatan ganda. Jika memang itu sebuah kecelakaan atau kelalaian dari individu tersebut dalam memahami aturan, maka kita harus berlapang dada. Di dunia yang keras ini, aturan adalah fondasi yang harus kita hormati bersama demi keseimbangan jagat raya. Itu adalah takdir dan risiko yang harus ditanggung oleh setiap penempuh jalan ini.
Namun, kita tidak bisa menutup mata bahwa hilangnya "suara-suara" ini seringkali dimanfaatkan oleh pihak asing untuk menyebar ketakutan. Musuh senang melihat barisan kita berkurang, terlepas dari apa pun alasan di baliknya.
Kita teringat pada jejak sejarah seorang pejuang kebenaran yang suaranya terlalu tajam bagi lawan, hingga akhirnya ia dihilangkan dalam perjalanannya mencari keadilan. Meskipun cara dan konteksnya berbeda, hilangnya para pembawa berita di dunia kita meninggalkan luka yang serupa: sebuah lubang besar dalam arus informasi warga.
Kita menghormati hukum yang ada, karena tanpa aturan, dunia ini akan kacau. Namun, kita juga menghormati mereka yang pernah berjasa menuliskan kebenaran sebelum akhirnya "dihapus" oleh takdir sistem.