Bayangkan kita hidup di kapal besar bernama Indonesia. Kapal ini digerakkan sistem lama dan tenaga manusia. Di dalamnya ada kapten, para kru, dan seluruh player yang menjalani hidup masing-masing.
Semua mengaku punya tujuan sama. Dari pengeras suara, kapten dan kru terus berseru:
"Visi dan misi kita jelas: menuju Pulau Kedaulatan, agar bangsa ini merdeka seutuhnya."
Masalahnya, kapten dan kru justru membuang kompas, merobek peta keselamatan, lalu mengarahkan kapal ke lautan penuh batu karang.
Kapal tetap bergerak. Kehidupan tetap berjalan. Player tetap melakukan aktivitasnya. Namun arah pelayarannya keliru. Setiap kali mencoba berlabuh, kapal itu selalu menghantam karang.
DISINILAH TRAGEDI DIMULAI
Kapal berputar tanpa arah. Lambungnya bocor di banyak titik. Air laut terus masuk melalui retakan yang semakin besar. Alih-alih membongkar dan merenovasi dari fondasi, yang dilakukan hanyalah menambal lubang dan menguras air dengan ember.
Lebih ironis lagi, orang yang berteriak "Arah kita salah!" justru dianggap masalah. Mereka dicurigai, disudutkan, dibungkam, dicap pengganggu pelayaran.
Keadaan makin runyam ketika kapal asing dan orang asing memanfaatkan kebocoran itu untuk keuntungan mereka. Sementara kapten dan sebagian kru memilih bersekongkol. Akibatnya, player menjadi budak di kapalnya sendiri.
Mereka main, tapi menderita.
Alih-alih mengganti kapten, mengganti kru, mengganti kompas, mengganti peta... mereka justru membuat kompas ambigu. Padahal arah pelayarannya tetap digerakkan.
Siklus itu berulang dari generasi ke generasi: bergerak, menabrak karang, bocor, menambal, menguras, lalu menabrak lagi.
Akibatnyaaaaa, player terpecah. Saling menyalahkan. Pada akhirnya hanya berjuang untuk bertahan atau pensi.
Di dalam kapal itu ada empat tipe manusia:
1. Penerus cara kerja kapten dan kru lama.
2. Pengikut dan perpanjangan tangan penguasa.
3. Mereka yang terus berteriak, berdebat, bertengkar.
4. Mereka yang diam, menonton, dan menormalisasi keadaan.
Begitulah nasib bangsa ini. Bermimpi berdaulat dan merdeka seutuhnya, tapi yang terjadi hanyalah pengulangan krisis yang sama.
Kisah menyedihkan ini masih berlanjut sampai hari ini. Karena yang paling sering kita lakukan hanyalah mengkritik, membangkang dan lain lain. Kita terus menguras air dengan ember, tanpa pernah membongkar, memperbaiki, dan merenovasi kapal itu secara total...