Kita patut memberikan PENGHORMATAN setinggi - tingginya kepada PEMERINTAH dan SELURUH RAKYAT yang telah berhasil menyatukan NUSANTARA. Keberhasilan tersebut didapat dalam waktu yang cukup singkat adalah bukti nyata kekuatan KOLEKTIF kita.
Kini kita harus berani bertanya, " Apakah kebijakan pemerintah selama ini sudah memiliki kalkulasi jangka panjang, atau hanya sekedar mengejar gengsi " ?

Lokasi: Pos Penjagaan Pesisir. Saya menemui Budi (22), seorang pemuda yang masih mengenakan kaos oblong putih dan sandal jepit, tangannya menggenggam pisau dapur yang diikatkan pada bambu.
Jurnalis: "Budi, Anda baru saja pulang dari pabrik dan langsung ke sini. Apa yang Anda rasakan saat pemerintah memerintahkan pengambilan seluruh wilayah sekaligus minggu lalu?"
Budi: "Awalnya? Bangga, Bung! Siapa yang tidak senang melihat BENDERA MERAH PUTIH BERKIBAR dalam semalam? Kami merasa tak terkalahkan. Kami lari dari pabrik, ambil apa saja yang tajam, dan ikut menyerbu. Tapi sekarang..." (ia menunjuk ke arah kapal musuh di cakrawala)

Lokasi: Sebuah bunker tua di garis belakang. Saya duduk bersama Pak Dewo (65), seorang veteran perang yang telah menyaksikan jatuh bangunnya negara ini berkali-kali
Jurnalis: "Pak Dewo, bagaimana anda melihat kebijakan ekspansi kilat pemerintah yang mengakibatkan wilayah kita terebut kembali oleh asing?"Pak Dewo: (Mengembuskan asap rokoknya perlahan) "Mereka amatir, Nak. Memenangkan perang itu mudah, merawatnya yang sulit. Pemerintah terjebak euforia. Seharusnya selangkah demi selangkah. Rebut satu, kunci, bangun bentengnya, baru maju lagi. Sekarang pertahanan kita setipis kertas karena kita terlalu bernafsu menguasai semuanya tanpa fondasi."

Lokasi: Pasar Tradisional.
Rian (21), tampak sibuk dengan urusannya dan tidak tahu apa yang sedang terjadi di luar
Jurnalis: "Anda tahu Nusa Tenggara, Sulawesi, Papua sudah jatuh?
Rian: "Hah? Jatuh? Saya tidak tahu. Tidak ada pengumuman yang jelas, Saya terlalu sibuk mengurus bisnis saya"
Ketika wilayah yang direbut dengan susah payah jatuh kembali dalam semalam karena kelalaian strategi, warga mulai bertanya-tanya untuk apa mereka meninggalkan pabrik dan ladang mereka.
Kedaulatan tidak bisa ditegakkan hanya dengan perintah, ia butuh kepercayaan bahwa setiap tetes keringat rakyat tidak akan dikhianati oleh kebijakan yang kurang matang.
Kedaulatan tidak dibangun dalam semalam, dan tidak akan BERTAHAN jika