KETAHANAN NEGARA SETELAH KEHILANGAN WILAYAH

Prabsky30 Oktober 2026economy

Siapa yang tak ingat? Malaysia pernah kehilangan seluruh wilayahnya, tetapi kemudian mampu membangun kembali kekuatan dan melakukan perlawanan yang berhasil. Peristiwa ini menunjukkan pentingnya kemampuan suatu negara untuk pulih setelah mengalami kemunduran.

Dalam kajian ketahanan nasional, kemampuan untuk menghadapi krisis dan memulihkan fungsi negara merupakan unsur penting. Laporan Australian Strategic Policy Institute (ASPI) mendefinisikan ketahanan nasional sebagai kemampuan negara untuk mempersiapkan diri, beradaptasi, menghadapi, merespons, dan pulih dari perubahan maupun krisis.

Pandangan ini sejalan dengan pernyataan Winston Churchill dalam pidatonya di Harrow School pada 29 Oktober 1941:

“Never yield to force; never yield to the apparently overwhelming might of the enemy.”

Churchill menekankan bahwa tekanan musuh, bahkan ketika tampak sangat besar, tidak harus menentukan hasil akhir perjuangan.

Kasus Malaysia disini memperlihatkan bahwa pemulihan kekuatan dan koordinasi dapat membuka peluang untuk kembali melakukan perlawanan. Oleh karena itu, ketahanan negara tidak hanya ditentukan oleh kekuatan awal, tetapi juga oleh kapasitas untuk pulih dan beradaptasi setelah mengalami kekalahan.