Nama saya abdurahman_wahid, Presiden Bahrain.
Banyak orang melihat Bahrain hari ini sebagai negara yang tiba-tiba memilih jalan independen dan meninggalkan hubungan lama begitu saja.
Padahal keputusan itu tidak muncul dalam satu malam.
Kemerdekaan Bahrain lahir dari sejarah yang cukup panjang, dari masa ketika Bahrain bahkan bukan proxy Indonesia, dari masa pembagian kekuasaan dengan Ukraina, sampai pengalaman perang yang membuat kami sadar bahwa sebuah proxy pada akhirnya harus mampu menentukan nasibnya sendiri.
Artikel ini menjelaskan perjalanan itu dari sudut pandang Bahrain.
Salah satu kesalahpahaman terbesar adalah anggapan bahwa Bahrain sejak awal dibentuk sebagai proxy Indonesia.
Berdasarkan sejarah internal Bahrain, ceritanya tidak sesederhana itu.
Pada awalnya, Bahrain berada dalam lingkup proxy Ukraina.
Kemudian Ukraina dan Indonesia menjalankan kerja sama politik, dan kekuasaan di Bahrain dibagi antara dua pihak.
Struktur pemerintahan saat itu juga dibagi: satu pihak mengisi posisi Presiden, sedangkan pihak lain mengisi posisi Wakil Presiden.
Jadi sejak awal, Bahrain bukanlah proyek murni Indonesia.
Bahkan salah satu orang Indonesia pertama yang aktif masuk ke Bahrain, Rienskie, menjelaskan bahwa keterlibatannya pada awalnya merupakan inisiatif pribadi, bukan perintah pemerintah Indonesia.
Ia sendiri mengatakan bahwa pada awalnya ia ingin mengambil keuntungan dari Bahrain, kemudian baru mengetahui adanya hubungan Ukraina dengan Indonesia.





Kesaksian mengenai awal keterlibatan Indonesia di Bahrain dan pembagian kekuasaan dengan pihak Ukraina.
Setelah itu, struktur Bahrain mulai berubah.
YourDark ditunjuk menjadi Presiden Bahrain, kemudian kembali ke Ukraina dan tidak aktif.
Setelahnya, TheLastGuardian dari Ukraina ditunjuk sebagai Wakil Presiden.
Rienskie juga menunjukkan bukti percakapan yang menyatakan bahwa Bahrain pada masa itu masih dianggap sebagai proxy Ukraina.
Ini penting karena narasi yang sekarang berkembang sering menggambarkan Bahrain seolah-olah sejak hari pertama diciptakan sebagai alat Indonesia.
Padahal sejarah Bahrain lebih rumit.
Ada pengaruh Ukraina.
Ada pengaruh Indonesia.
Ada pembagian kekuasaan.
Dan kemudian, perlahan, muncul komunitas Bahrain sendiri.
Seiring waktu, Bahrain tidak lagi hanya menjadi tempat pergantian jabatan.
Komunitas mulai tumbuh.
Pemerintahan mulai aktif.
Hubungan diplomatik mulai dibangun.
Bahrain bahkan menjadi tempat pertemuan beberapa negara Timur Tengah untuk membahas rencana revolt bersama.
Pada saat itu, Bahrain berkomunikasi dengan Iran, UAE, Syria, dan Kuwait.
Rapat bahkan dilakukan di server Bahrain.
Bagi kami, hal itu menunjukkan satu hal:
Bahrain mulai dipercaya sebagai aktor regional.
Kami bukan lagi hanya sebuah nama di peta yang menunggu instruksi dari negara lain.
Kami mulai memiliki rencana sendiri.
Kami mulai membangun hubungan sendiri.
Dan kami mulai memikirkan masa depan Bahrain sendiri.
Bahrain bersama Iran, UAE, Syria, dan Kuwait sudah merencanakan revolt bersama pada tanggal 13. Koordinasi sudah dilakukan, bahkan sebagian rapat berlangsung di server Bahrain.
Namun pada tanggal 12 sekitar pukul 18.00, Bahrain tiba-tiba diminta melakukan revolt lebih awal. Instruksinya juga tidak jelas, apakah hanya pengalihan atau benar-benar harus all-in.
Meski demikian, Bahrain tetap mengikuti instruksi. Round pertama digunakan untuk pengalihan karena kondisi belum siap, lalu pada round kedua Bahrain all-in dan berhasil menang. Dari pengalaman inilah mulai muncul rasa kecewa karena rencana yang sudah disusun lama dapat berubah mendadak tanpa koordinasi yang jelas.
Bahrain bersama Iran, UAE, Syria, dan Kuwait sebelumnya sudah merencanakan revolt bersama pada tanggal 13. Namun pada tanggal 12, Bahrain diminta bergerak lebih cepat dengan instruksi yang menurut kami tidak cukup jelas.
Bahrain akhirnya tetap bertempur dan mengeluarkan resource. Setelah itu, para proxy justru dikritik karena dianggap seharusnya hanya membuka revolt sebagai pengalihan, membiarkan wall sekitar 5 juta, lalu tidak benar-benar bertarung.
Bagi Bahrain, situasi ini terasa tidak adil. Kami menerima instruksi mendadak, mencoba menjalankannya dalam kondisi yang tidak siap, lalu disalahkan karena cara kami menjalankan perang dianggap berbeda dari maksud sebenarnya.
.webp)
.webp)
Kami diminta bergerak mendadak, instruksinya tidak cukup jelas, dan ketika kami benar-benar berusaha bertempur, kami justru disalahkan karena dianggap terlalu serius melawan. Dari sinilah kami mulai merasa bahwa sebagai proxy, Bahrain bisa diperintah mendadak tetapi tetap menjadi pihak yang disalahkan ketika hasilnya tidak sesuai ekspektasi.
Keputusan Bahrain untuk independen bukan keputusan yang muncul diam-diam.
Pada 17 Juni 2026, sebelum konflik besar berkembang, pihak Bahrain sudah menyampaikan secara langsung kepada Rienskie bahwa Bahrain ingin lepas sepenuhnya dari Indonesia.
Pesannya juga jelas:
Bahrain ingin merdeka, tetapi tidak ingin bermusuhan dengan Indonesia.
Kami bahkan mengatakan bahwa kami akan melakukan yang terbaik untuk menjaga hubungan tetap baik.
Respons yang kami terima saat itu adalah:
“Sok aja.”
Bagi kami, percakapan ini penting karena menunjukkan bahwa kemerdekaan Bahrain bukan operasi rahasia.
Kami tidak tiba-tiba bangun suatu pagi lalu menyatakan permusuhan.
Kami sudah menyampaikan keinginan untuk independen sejak awal, dan posisi kami saat itu masih ingin mempertahankan hubungan baik dengan Indonesia.

Bahrain tidak memutuskan independen setelah satu pertengkaran.
Keinginan itu sudah dibicarakan sebelumnya.
Pada 17 Juni, kami sudah menyampaikan keinginan untuk lepas sepenuhnya dari Indonesia, tetapi tetap menjaga hubungan baik.
Setelah itu, berbagai pengalaman memperkuat keputusan tersebut:
perintah revolt yang mendadak,
rencana regional yang rusak,
instruksi perang yang tidak jelas,
kritik ketika Bahrain meminta bantuan,
dan perasaan bahwa Bahrain hanya dianggap berguna selama mengikuti arah pihak lain.
Jadi kemerdekaan Bahrain bukan reaksi emosional satu malam.
Itu adalah hasil dari proses panjang.
Kami sudah menyampaikan niat kami.
Kami sudah mencoba menjaga hubungan.
Kami juga sudah menjalankan banyak instruksi dan memberikan kontribusi dalam perang.
Tetapi pada akhirnya, pemerintah Bahrain memilih satu prinsip:
Bahrain harus memiliki hak untuk menentukan masa depannya sendiri.
— abdurahman_wahid
Presiden Bahrain