Merah Jenggerku Putih Buluku 2

rooster13 Mei 2026entertainment


Bab II

Sebutir Kerikil Dalam Sekarung Gabah

Setelah luka-luka saya mengering dan bulu-bulu yang rontok mulai tumbuh kembali, saya perlahan memahami bahwa perang tidak hanya berlangsung di medan tempur. Ia juga berlangsung di tempat-tempat yang lebih sunyi.

 

Di balik meja, di dalam rapat, di antara angka-angka, di sela-sela kalimat yang terdengar sopan namun menyimpan maksud yang jauh lebih tajam daripada bayonet. Dan, yang paling sering luput disadari oleh prajurit seperti saya, perang juga berlangsung di dalam kantong sendiri.

 

Saya menghabiskan terlalu banyak waktu memperkuat paruh dan cakar saya, terlalu sibuk menghitung daya rusak, terlalu bangga melihat kemampuan tempur saya bertambah. Terlalu percaya bahwa selama saya dapat berdiri di garis depan, maka segala sesuatu yang lain akan mengikuti dengan sendirinya.

 

Betapa naifnya seekor ayam dapat menjadi. Saya lupa bahwa bahkan prajurit yang paling gigih pun tetap memerlukan dedak. Saya lupa bahwa keberanian tidak dapat membeli perlengkapan. Saya lupa bahwa kehormatan tidak dapat membayar tagihan.

 

Dan akibat kelalaian kecil itu, saya pernah merasakan sesuatu yang jauh lebih memalukan daripada terkena hujan peluru, kebangkrutan. Sungguh pengalaman yang merendahkan. Tidak ada musuh yang perlu menembak Anda ketika isi dompet Anda sendiri telah lebih dahulu melubangi harga diri.

 

Saya pernah berdiri menatap inventaris saya dengan perasaan yang lebih hampa daripada ladang selepas panen. Senjata ada, semangat ada, luka pun ada, namun kemampuan untuk melangkah lebih jauh terasa tertahan oleh sesuatu yang jauh lebih sederhana, ketiadaan modal.

 

Barulah saat itu saya memahami bahwa seekor ayam yang hanya tahu bertarung, namun tak tahu menjaga lumbungnya, tak ubahnya seperti pahlawan yang tersesat di pasar. Berisik, gagah, dan miskin.

 

Kini saya lebih banyak menundukkan kepala, not dalam arti menyerah, melainkan untuk mematuki kembali butir-butir kecil yang dulu saya abaikan. Membangun kestabilan, mengumpulkan perlahan, dan memperbaiki fondasi. Mungkin tidak semulia mengangkat senjata, tetapi jauh lebih berguna daripada jatuh miskin sambil membawa idealisme.

 

Aneh rasanya, dulu saya meninggalkan peternakan demi kebebasan. Kini saya justru sibuk menghitung hasil produksi seperti ayam tua yang cemas pada stok gabah musim depan. Barangkali beginilah kedewasaan datang, bukan ketika kita berhenti berperang, melainkan ketika kita mulai memahami bahwa tidak semua kemenangan diperoleh melalui pertempuran.

 

Di sela-sela usaha saya membangun kembali kestabilan itu, negeri ini sempat diguncang oleh sesuatu yang jauh lebih gaduh daripada ledakan. Politik, atau, seperti yang lebih saya suka menyebutnya racun yang diberi pakaian resmi.

 

Saya tidak akan mengulang kisahnya, semua orang sudah mendengarnya, semua orang sudah menyaksikannya. Sebagian bahkan mungkin masih terlalu lelah untuk membicarakannya lagi. Cukuplah dikatakan bahwa pernah ada satu sosok yang, pada awalnya, tampak seperti bibit muda yang penuh semangat.

 

Pendatang baru yang antusias, berapi-api. Jenis sosok yang membuat banyak orang berpikir, “Mungkin ia akan membawa perubahan.” Namun, sebagaimana banyak hal dalam dunia ini, api kecil yang tampak menghangatkan kadang diam-diam sedang bersiap membakar lumbung.

 

Ambisi yang awalnya tampak seperti semangat perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih haus, lebih keras kepala, lebih sibuk mendengar gema suaranya sendiri daripada suara orang lain. Dan di sanalah saya kembali diingatkan, bahwa politik tidak selalu merusak orang jahat.

 

Kadang ia hanya menemukan celah kecil dalam diri seseorang, lalu memperbesarkannya hingga menelan seluruh akal sehat. Seperti sebutir kerikil dalam sekarung gabah, kecil, hampir tak terlihat, dan mudah diabaikan. Namun bila ikut masuk ke dalam penggilingan, ia dapat merusak seluruh mesin. Bukan karena ukurannya besar, melainkan karena semua orang terlalu lama membiarkannya tetap berada di sana.

 

Saya hanya mengamati, saya tidak berdiri di pihak siapa pun, saya tidak meneriakkan slogan, saya tidak menulis dukungan, saya tidak pula menabuh genderang perlawanan. Saya hanya seekor ayam jantan yang duduk diam di pagar, memperhatikan manusia-manusia dan sesama warga saling memperebutkan kendali atas sesuatu yang bahkan belum tentu dapat mereka kendalikan.

 

Kadang saya bertanya-tanya, apakah kekuasaan benar-benar membuat seseorang berubah? Ataukah ia sekadar memperlihatkan apa yang selama ini tersembunyi? Saya tidak tahu, dan terus terang, saya juga tidak terlalu ingin tahu.

 

Semakin lama saya memandang politik, semakin saya merasa seperti sedang menatap air yang tercemar. Semua orang datang dengan niat untuk membersihkan sesuatu. Namun entah bagaimana, hampir semuanya pulang dengan bulu yang ikut menghitam.

 

Barangkali itulah sebabnya saya memilih menjaga jarak. Bukan karena saya apatis, bukan pula karena saya pengecut. Melainkan karena saya cukup mengenal diri saya sendiri. Saya tahu bahwa seekor ayam yang terlalu lama mematuki racun lambat laun akan lupa rasanya dedak.

 

Saya tidak ingin menjadi seperti itu. Saya tidak ingin mulai percaya bahwa berdebat lebih penting daripada bekerja. Saya tidak ingin mulai mengukur harga diri dari jabatan. Saya tidak ingin suatu hari mendapati diri saya haus validasi dari makhluk-makhluk yang bahkan tak dapat menyepakati arah mata angin.

Namun, bukan berarti saya memandang rendah mereka yang memilih duduk di kursi-kursi pemerintahan dan menjalankan tugas mereka sebagaimana mestinya. Tidak, saya justru menaruh hormat yang tulus kepada mereka yang masih mampu menjaga kepala tetap jernih meski setiap hari harus berkubang di dalam racun yang sama saya hindari. Dibutuhkan keberanian yang berbeda untuk bertahan di sana, keberanian yang barangkali tidak saya miliki. Saya tidak iri pada beban mereka, dan saya pun tidak ingin memikulnya.

 

Tidak, biarlah saya tetap menjadi prajurit kecil. Biarlah saya tetap menjadi nama biasa yang hilang di antara daftar warga negara. Biarlah saya membangun lumbung saya, memperbaiki perlengkapan saya. Menyiapkan diri saya untuk hari ketika negara kembali membutuhkan tubuh-tubuh kecil untuk dilemparkan ke garis depan.

 

Karena jika perang adalah kewajiban yang tak dapat dihindari, maka politik adalah kubangan yang masih bisa saya hindari. Setidaknya untuk sekarang, dan mungkin untuk waktu yang lama. Saya telah melihat cukup banyak kerikil untuk memahami satu hal, tidak semua hal yang kecil patut diremehkan.

 

Satu peluru dapat melukai tubuh, satu keputusan dapat melukai bangsa, dan satu butir kesalahan, entah dalam dompet, entah dalam parlemen, dapat menghambat seluruh perjalanan.  Maka untuk sementara ini, saya memilih kembali kepada hal-hal sederhana. Dedak yang cukup, lumbung yang stabil, cakar yang tetap tajam, dan jarak yang sehat dari meja-meja tempat racun itu disajikan.

 

Sebab jengger saya mungkin merah, dan bulu saya mungkin putih, namun saya belum cukup berani untuk mencelupkannya ke dalam lumpur politik.

Merah Jenggerku Putih Buluku 2 | War Era