Bab III
Tak Surut Sungai, Tak Subur Ladang
Pada suatu petang yang tidak terlalu sibuk oleh urusan dedak maupun berita-berita peperangan, saya memutuskan berjalan lebih jauh daripada biasanya. Bukan untuk berlatih, bukan pula untuk menghindari hiruk-pikuk sesama warga yang sibuk memperdebatkan urusan negeri.
Saya hanya hendak menyegarkan kepala. Kadang-kadang, setelah terlalu lama memandangi angka, menghitung hasil, menakar kebutuhan, dan mendengar orang-orang bicara tentang masa depan bangsa seolah-olah bangsa ini dapat dibetulkan hanya dengan kalimat-kalimat panjang, saya merasa perlu kembali mendengar suara alam.
Setidaknya pepohonan tidak pernah berbohong, ia tumbuh bila akarnya cukup, ia rebah bila tanahnya runtuh, sederhana. Jauh lebih sederhana daripada makhluk-makhluk yang gemar menamai dirinya beradab.
Maka saya berjalan menyusuri tepian sebuah rawa tua di pinggir hutan, tempat air sungai yang lebar mengalir tenang, membawa daun-daun gugur dan bayangan langit yang mulai tembaga. Di sanalah saya melihat mereka.
Sekawanan berang-berang muda, mereka tampak baru datang. Bulu mereka masih bersih, gerak-gerik mereka canggung, namun semangat mereka demikian riuh. Mereka mengangkut ranting, menyusun batang-batang kecil, menumpuk lumpur. Membangun bendungan kecil di salah satu cabang sungai, seolah mereka hendak berkata kepada dunia bahwa, “Kami mungkin kecil, tetapi kami hendak turut membentuk tempat ini.”
Saya memperhatikan mereka dengan diam. Ada sesuatu yang menyenangkan dalam melihat makhluk muda bekerja dengan penuh harap. Barangkali karena harapan adalah satu-satunya hal yang tetap tampak indah sebelum disentuh kenyataan. Pekerjaan mereka belum rapi, bahkan beberapa susunannya tampak mudah runtuh, namun saya tidak menertawakannya. Segala sesuatu yang kelak kokoh, biasanya memang bermula dari bentuk yang canggung.
Namun belum lama saya berdiri di sana, terdengar suara lain. Suara langkah panjang dan lamban, dari seberang rawa datang seekor bangau tua. Ia tinggi, bulu-bulunya rapi, paruhnya tajam, langkahnya mantap seperti makhluk yang telah lama percaya bahwa tanah itu sebagian miliknya.
Saya menduga ia memang penghuni lama tempat itu. Bangau-bangau semacam itu biasanya hafal setiap lekuk air, setiap kedalaman lumpur, setiap tempat terbaik untuk berdiri sambil memandang rendah makhluk lain. Ia berhenti, memandangi para berang-berang kecil, lalu tertawa. Bukan tawa yang riang, melainkan tawa yang biasa keluar dari makhluk yang terlalu lama hidup, hingga lupa bagaimana caranya menyambut kehidupan baru.
“Lihat mereka,” katanya.
“Mereka belum tahu deras arus. Belum tahu letak ikan. Belum tahu cara membaca hujan. Tetapi sudah sibuk bermain menjadi pembangun.”
Para berang-berang itu saling berpandangan. Mula-mula mereka tertawa kecil, mengira itu sekadar senda. Namun bangau tua itu melanjutkan.
“Rawa ini telah lama berdiri sebelum kalian datang. Ada tata yang telah dipahami oleh mereka yang cukup lama tinggal di sini. Kadang-kadang, sebelum sibuk menata aliran, ada baiknya belajar dahulu bagaimana arus bekerja.”
Tak ada bentakan, tak ada hinaan yang gamblang. Namun cukup ada dingin di dalam suaranya untuk membuat beberapa berang-berang saling berpandangan. Sebagian menunduk, sebagian tertawa kecil, pura-pura tak terganggu, sebagian lagi tetap bekerja, meski gerak tangan mereka berubah lebih lambat.
Saya diam, mendengar, mengamati. Mula-mula saya merasa tidak suka. Ada sesuatu dalam cara bangau itu berbicara yang mengingatkan saya pada banyak makhluk yang terlalu lama bertahan, hingga lupa bahwa dahulu mereka pun pernah datang sebagai pendatang.
Namun saya tidak lekas menyalahkannya, sebab saya juga melihat sesuatu yang lain. Bangau itu tidak sepenuhnya keliru. Saya memperhatikan bendungan kecil para berang-berang itu. Beberapa ranting diletakkan terlalu longgar, beberapa batu dipilih sembarangan.
Mereka memang bekerja dengan semangat, tetapi semangat saja belum tentu cukup untuk menahan arus. Kadang-kadang, nasihat yang terasa pahit memang datang karena sungai benar-benar dapat menghukum kesalahan. Masalahnya, tidak semua nasihat pahit perlu disajikan dengan wajah setajam paruh.
Hari-hari berlalu, sebagian berang-berang pergi. Mungkin tersinggung, mungkin merasa rawa itu bukan tempat yang ramah. Mungkin mereka hanya tidak ingin belajar di bawah tatapan yang selalu terasa seperti ujian.
Namun tidak semuanya pergi, beberapa tetap tinggal. Mereka diam-diam kembali menyusun bendungan. Kali ini lebih perlahan, lebih teliti. Mereka mengamati arus sebelum meletakkan ranting, mereka belajar membaca lumpur, mereka mulai bertanya kepada sesama mereka, bahkan kadang kepada bangau tua itu sendiri.
Dan bangau tua itu, meski tetap berbicara dengan nada yang sukar disukai, tetap menjawab. Pendek, kaku, kadang terdengar seperti celaan, tetapi jawabannya benar. Saya melihat sesuatu yang aneh tumbuh di antara mereka, bukan persahabatan, belum, tetapi semacam penghormatan yang lahir dari gesekan.
Mereka yang bertahan menjadi lebih kuat. Mereka yang pergi mungkin menemukan rawa lain yang lebih lembut. Dan saya tidak dapat menyalahkan keduanya.
Sungai tidak membutuhkan semua makhluk untuk tinggal. Tetapi ia juga tak dapat terus hidup bila setiap pendatang dibuat takut menyentuh air. Di situlah saya mengerti mengapa hati saya terasa ganjil sejak tadi.
Bangau tua itu bukan musuh. Berang-berang muda itu pun bukan korban semata. Keduanya hanya sedang melakukan kesalahan yang sangat tua.
Yang satu lupa bagaimana rasanya menjadi baru, yang lain belum mengerti bahwa bertumbuh kadang memang menuntut kulit yang lebih tebal. Yang satu terlalu keras dalam menjaga rawa, yang lain terlalu mudah mengira kerasnya rawa sebagai penolakan. Padahal mungkin keduanya sama-sama ingin tinggal, sama-sama ingin menjaga rumah yang sama.
Seekor ayam seperti saya tidak punya banyak hak untuk menggurui siapa pun. Saya masih sibuk menata lumbung saya sendiri. Masih sibuk belajar bahwa kekuatan bukan hanya soal cakar dan keberanian, tetapi juga soal kesabaran mengumpulkan yang kecil-kecil.
Namun hari itu saya mencatat sesuatu yang patut saya simpan, bahwa tidak semua kata tajam lahir dari kebencian. Tidak semua yang tersinggung telah diperlakukan salah. Dan tidak semua yang bertahan menjadi kuat karena mereka paling berani, kadang mereka hanya memilih untuk mendengar lebih lama.
Rawa membutuhkan bangau-bangau tua yang mengenal arus. Tetapi rawa juga membutuhkan berang-berang muda yang berani membangun bendungan baru. Tanpa yang pertama, air kehilangan arah. Tanpa yang kedua, tepian perlahan runtuh.
Tak surut sungainya, air tetap ada, arus tetap mengalir. Namun bila para penghuni lama hanya pandai menguji, dan para pendatang baru hanya pandai tersinggung, maka ladang pun tetap tak kunjung subur.
Author's Note:
aight mates, i think it's time to introduce this series of articles properly, so, um, you see, i really like writing and literature, the idea of jotting things like some kind of literary fiction in this environment came out me mind someday, and i started writing these articles, cuz why not, right? this is one of the biggest W features that this game has, and honestly, it's owsome.. now 'bout the articles, "Merah Jenggerku Putih Buluku" is an allegorical chronicle as well as a fictional memoir told from the perspective of a rooster that always observing its surroundings and severs as the narrator throughout the series, obviously, this is a work of fiction written purely for entertainment, so if anything in these articles felt absurdly similar to what you've experienced, then consider it a coincidence, i’m also a great admirer of indonesian literature, especially older works, writing that tends to be straightforward in its narration, yet rich with metaphors, symbolism, and quiet reflections, naturally, i’ve tried to emulate that style here as much as i can, so yeah, hope you can enjoy reading it as much as i enjoy writing it.
audentes fortuna iuvat,
cheers!