Merah Jenggerku Putih Buluku

roostre7 Mei 2026entertainment

Bab I

Tak Cukup Kandang, Dedak pun Jua

Saya lahir bukan di tengah perang, melainkan di sebuah peternakan tua yang terletak jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari pidato para pejabat, jauh dari bendera-bendera yang dikibarkan sambil meneriakkan harga diri bangsa. Tempat itu hanyalah hamparan pagar kayu lapuk, gudang gabah yang bocor kala hujan, serta bau tanah basah yang setiap pagi bercampur dengan aroma dedak.

Hidup saya kala itu sederhana. Barangkali terlalu sederhana.

Saya dibesarkan untuk dua kemungkinan yang lazim menimpa ayam mana pun: bertelur bagi yang betina, atau menjadi santapan bagi yang berjengger seperti saya. Tidak ada kehormatan di sana. Tidak ada nasionalisme. Tidak ada perang. Seekor ayam hanya perlu tahu kapan matahari terbit, kapan dedak ditebar, dan kapan tangan manusia mulai tampak terlalu ramah untuk dipercaya.

Saya melarikan diri dari tempat itu ketika usia saya belum cukup tua untuk disebut dewasa, namun juga tidak cukup muda untuk tetap percaya bahwa kandang adalah rumah. Saya masih mengingat malam saat itu. Hujan turun tipis-tipis seperti langit yang malas menangis. Saya mematuki celah pagar yang rapuh selama berhari-hari sebelumnya, lalu menerobos keluar menuju hutan yang gelap.

Dan sejak malam itu, saya menjadi ayam liar.

Saya hidup bertahun-tahun di dalam rimba yang sunyi, memakan apa pun yang dapat saya temukan, tidur di bawah akar-akar pohon besar, serta belajar bahwa dunia jauh lebih luas daripada kandang mana pun. Tidak ada pagar di sana. Tidak ada manusia. Tidak ada yang menyuruh saya bertelur demi ekonomi nasional atau dipotong demi stabilitas pangan.

Hutan mengajarkan kebebasan dengan cara yang kejam.

Di sana, setiap hari adalah pertaruhan. Namun setidaknya, hidup saya adalah milik saya sendiri.

Saya tidak mengetahui apa pun tentang dunia luar selama masa itu. Saya tidak tahu siapa presiden Indonesia kala itu. Saya tidak tahu siapa yang sedang berpidato di parlemen. Saya bahkan tidak tahu bahwa negeri tempat saya dilahirkan perlahan-lahan sedang dicabik-cabik oleh perang.

Sampai tanggal 25 Maret 2026.

Hari itu masih saya ingat dengan sangat jelas. Langit mendung. Udara lembap. Angin berembus pelan membawa bau asap yang asing dari arah utara.

Saya menemukan selebaran itu secara tidak sengaja di lantai hutan, tersangkut di antara akar pohon dan semak belukar. Entah dari mana asalnya. Barangkali terbawa angin. Barangkali dijatuhkan seseorang yang terburu-buru. Atau mungkin memang takdir sedang bosan melihat saya hidup terlalu damai.

Di atas kertas lusuh itu terdapat sebuah peta Indonesia. Namun Indonesia yang saya lihat bukanlah negeri utuh sebagaimana yang pernah saya dengar dari obrolan para petani dahulu kala.

Sumatra dan Jawa diduduki India. Kalimantan dan Sulawesi direbut Filipina. Maluku serta Papua jatuh ke tangan Timor Leste. Peta itu dipenuhi warna-warna asing seperti tubuh yang dipenuhi lebam. Dan tepat di bawahnya tertulis sebuah kalimat besar:

“Kita membutuhkan Anda untuk membebaskan Indonesia dari antek-antek asing.”

Saya menatap kalimat itu lama sekali.

Lucu rasanya memikirkan bagaimana seekor ayam liar yang bertahun-tahun hidup menghindari manusia justru dipanggil untuk menyelamatkan negara manusia.

Saya bahkan nyaris tertawa saat itu. Negara. Konsep yang aneh.

Makhluk-makhluk tanpa bulu itu gemar sekali menggambar garis di atas peta, lalu saling membunuh demi garis yang mereka buat sendiri. Mereka menyebutnya patriotisme. Mereka menyebutnya harga diri bangsa. Padahal dari sudut pandang seekor ayam hutan, tanah tetaplah tanah. Hutan tetaplah hutan.

Namun entah mengapa…saya tidak dapat membuang selebaran itu.

Mungkin karena untuk pertama kalinya sejak melarikan diri dari peternakan, saya merasa bahwa saya sedang dipanggil oleh sesuatu yang lebih besar daripada sekadar bertahan hidup. Atau mungkin saya hanya terlalu bodoh untuk mengabaikannya.

Beberapa hari kemudian, saya meninggalkan hutan. Saya berjalan menuju kota-kota yang belum sepenuhnya runtuh oleh perang. Di sepanjang perjalanan, saya melihat dunia yang selama ini tak pernah saya kenal.

Gedung-gedung terbakar. Poster propaganda. Bendera-bendera koyak. Wajah-wajah letih. Dan manusia-manusia yang berbicara tentang kemerdekaan dengan mata cekung akibat kurang tidur.

Di situlah saya mulai memahami satu hal. Perang tidak pernah benar-benar dimulai di medan tempur. Perang dimulai jauh sebelumnya, di meja-meja para politikus yang terlalu kenyang untuk mencium bau darah.

Dan sejak saat itu pula, saya mulai tidak terlalu suka dengan politik politik. Bagi saya, politik adalah racun.

Ia membuat makhluk biasa percaya bahwa kematian massal dapat disebut strategi. Ia membuat penjajahan terdengar seperti diplomasi. Ia membuat para pemimpin tetap duduk nyaman sementara prajurit-prajurit kecil dikirim menjadi karung pasir bernapas.

Namun itu tidak menghentikan saya bergabung dengan militer Indonesia. Ironis, bukan? Saya yang muak pada politik justru masuk ke dalam perang yang lahir dari politik itu sendiri.

Barangkali beginilah cara dunia bekerja. Seekor ayam dapat membenci kandang, tetapi tetap mati demi mempertahankannya.

Perang pertama yang saya ikuti bukanlah perang kemerdekaan Indonesia. Melainkan perang Australia. Kala itu Australia berusaha merebut kembali tanah mereka dari pendudukan Timor Leste, sementara Indonesia memutuskan membantu mereka melalui aliansi militer. Saya masih mengingat pidato komandan sebelum pertempuran dimulai.

“Bantu Australia merdeka, maka selanjutnya kita merdekakan diri kita.”

Pidato yang bagus. Terlalu bagus. Jenis pidato yang biasanya diucapkan oleh mereka yang tidak berdiri di garis depan.

Namun saat itu saya belum cukup tua untuk bersikap sinis terhadap harapan. Maka saya ikut bertempur bersama ribuan prajurit lain, percaya bahwa setelah Australia bebas, Indonesia akan menyusul.

Pertempuran berlangsung sengit Langit malam dipenuhi cahaya tembakan. Tanah berguncang oleh ledakan.

Saya melihat manusia, ayam, serta berbagai makhluk lain saling mencabik demi sebidang tanah yang bahkan tidak akan mereka bawa ke liang kubur.

Namun di tengah kekacauan itu, Australia akhirnya berhasil merebut kembali daratan mereka.

Kemenangan. Setidaknya begitu kata para pejabat. Sayangnya, kemenangan itu harus dibayar mahal bagi saya.Saya terkena hujanan peluru di pertempuran tersebut.

Saya masih mengingat rasa panasnya menembus bulu-bulu putih saya. Saya jatuh di tanah berlumpur sambil mendengar suara tembakan yang perlahan menjauh. Dunia terasa dingin saat itu. Sangat dingin.

Ketika saya sadar kembali beberapa waktu kemudian, perang kemerdekaan Indonesia telah dimulai. Dan saya.. tidak ada di sana.

Tubuh saya terlalu rusak untuk kembali bertempur.

Saya hanya dapat mendengar kabar-kabar tentang perlawanan itu dari ranjang perawatan, mendengarkan nama-nama kota disebutkan seperti doa yang terlambat.

Indonesia akhirnya merdeka. Namun saya tidak ikut menyaksikannya. Dan anehnya, justru itulah luka yang paling sulit sembuh. Bukan pelurunya. Melainkan rasa tertinggal.

Saya telah meninggalkan hutan, meninggalkan kebebasan, meninggalkan hidup damai demi sebuah perjuangan besar. Namun ketika momen paling penting itu tiba, saya malah terbaring tak berguna seperti ayam tua menunggu ajal.

Tak cukup kandang, dedak pun jua. Saya kehilangan rumah pertama saya ketika melarikan diri dari peternakan. Dan kini, bahkan kesempatan untuk memperjuangkan rumah kedua saya pun ikut direnggut perang.

Untungnya, kini saya bisa kembali lagi, lebih mapan lebih siap, tuk mengerahkan segenap jiwa, demi merah dan putih.

Merah Jenggerku Putih Buluku | War Era