Wahai saudara sebangsa dan setanah air,
Di tengah asap pertempuran yang masih mengepul, di antara kabar gugurnya rekan-rekan kita di garis depan, izinkan saya—seorang pemuda biasa—menuliskan kegelisahan ini. Bukan untuk mengeluh, melainkan untuk menyadarkan. Bukan untuk melemahkan, melainkan untuk menguatkan.
Hari ini, negeri kita berdiri di ambang kehilangan yang lebih besar.
Bukan karena kita lemah.
Bukan karena kita kekurangan keberanian.
Melainkan karena kita membagi kekuatan kita di saat yang paling tidak seharusnya.
Kini, Indonesia sedang berjuang di tiga wilayah sekaligus.
Di setiap penjuru, darah anak bangsa tertumpah.
Di setiap garis batas, kita bertahan dengan segenap daya.
Namun izinkan saya bertanya:
Bagaimana mungkin satu tenaga mampu menahan tiga badai sekaligus?
Kekuatan kita bukanlah tanpa batas.
Senjata kita tidaklah tak berujung.
Dan waktu… tidak pernah berpihak pada yang ragu.
Dengan memecah kekuatan ke tiga arah, kita tidak sedang menunjukkan keberanian—
kita sedang membuka peluang untuk kalah di semua arah sekaligus.
Jangan kita keliru memahami keadaan.
Yang kita hadapi bukanlah satu negara.
Namun mereka bergerak sebagai satu kehendak.
Beberapa bangsa, satu aliansi.
Beberapa panji, satu tujuan.
Beberapa serangan, satu waktu.
Mereka tidak tercerai-berai seperti yang kita bayangkan.
Mereka datang sebagai satu kesatuan.
Dan kita?
Masih bertindak seolah menghadapi mereka satu per satu.
Wahai para pemimpin negeri,
wahai mereka yang memegang kendali strategi,
Dengarkanlah suara kecil ini:
Pilih satu medan. Fokuskan seluruh daya. Menangkan satu pertempuran.
Jangan biarkan kekuatan kita tercerai seperti pasir di genggaman.
Padatkan ia. Keraskan ia. Arahkan ia.
Satu kemenangan akan menghidupkan harapan.
Satu kemenangan akan mengembalikan keyakinan.
Satu kemenangan akan menjadi pijakan untuk merebut yang lain.
Lebih baik satu kemenangan yang pasti,
daripada tiga perlawanan yang berujung kehilangan.
Jika mereka datang sebagai aliansi,
maka kita pun tidak boleh berdiri sendiri.
Perkuat ikatan dengan sekutu kita.
Bangun tekanan di tempat lain.
Paksa mereka merasakan apa yang kini kita alami:
Kebingungan. Keterpecahan. Ketidakmampuan untuk fokus.
Jangan hanya bertahan dari serangan.
Mulailah mengganggu keseimbangan mereka.
Hari ini mungkin kita terdesak.
Hari ini mungkin kita mundur.
Namun jangan biarkan hari ini menjadi akhir dari segalanya.
Kita kalah bukan karena tak berani.
Kita kalah karena tak terarah.
Dan arah—
dapat kita ubah.
Ingatlah mereka yang telah gugur.
Ingatlah keringat yang telah mengalir.
Ingatlah darah yang telah membasahi tanah ini.
Apakah kita akan membiarkan semua itu sia-sia
hanya karena kita enggan memilih satu arah?
Tidak.
Selama masih ada satu pemuda yang berpikir,
selama masih ada satu hati yang menyala,
perjuangan ini belum berakhir.
Rebut satu. Menangkan satu. Lalu bangkitkan seluruh negeri.
Hormat dan doaku untuk tanah air yang sedang terluka,
serta untuk masa depan yang masih bisa kita menangkan.
— Seorang Pemuda, dari Garis Belakang Perjuangan