
FILIPINA MEREBUT KEMBALI TANAHNYA. INDONESIA MALAH BERDEBAT SOAL PEMASUKAN!
Pihak pemerintah beralasan bahwa Brasil tidak boleh diganggu karena pemasukan iron bisa menurun. Brasil bahkan disebut telah memberikan 2K gold melalui sebuah perjanjian. Tetapi pertanyaan mendasarnya tetap sama: apakah keuntungan ekonomi sepadan dengan membiarkan Sulawesi berada di bawah kendali asing?
Lihat Filipina! Mereka berhasil merebut kembali wilayahnya melalui perjuangan di medan perang. Sementara itu, Indonesia justru dihadapkan pada perdebatan tentang transaksi, sewa wilayah, dan keuntungan sumber daya.
FILIPINA MENUNJUKKAN HASIL PERJUANGAN. INDONESIA MALAH MEMPERTANYAKAN HARGA KEDAULATANNYA!
Jangan jadikan perjanjian ekonomi sebagai jawaban untuk setiap persoalan. Jika 2K gold cukup untuk membenarkan pendudukan, berapa harga yang harus dibayar agar Sulawesi kembali menjadi milik Indonesia?
Yang lebih menyedihkan, di mana solidaritas komunitas Indonesia? Mengapa tidak ada gelombang dukungan yang sebanding untuk Sulawesi? Apakah kita hanya bersatu ketika keuntungan tersedia, tetapi terpecah ketika wilayah sendiri membutuhkan pembelaan?
Kita tidak perlu menuduh tanpa bukti adanya sindikat atau kesepakatan rahasia. Namun, pemerintah tetap harus menjelaskan isi perjanjian, manfaatnya, dan konsekuensinya bagi kedaulatan negara.
JIKA FILIPINA BISA BERSATU UNTUK MEREBUT KEMBALI TANAHNYA, MENGAPA SOLIDARITAS INDONESIA SEAKAN BERHENTI DI SULAWESI?
Sulawesi bukan sekadar tambang iron. Sulawesi adalah ujian: apakah komunitas ini masih punya solidaritas, atau semuanya hanya bergerak ketika ada keuntungan?
KEDAULATAN BUKAN BARANG SEWA. SOLIDARITAS BUKAN SEKADAR SLOGAN.
— GERAKAN RAKYAT SEMESTA
Sumatera