🔴TRAVEL DIARY: Bromo, Paralayang dan Secangkir Kopi

Petugas_Partai23 Juni 2026entertainment

23/6/26



🔴 TRAVEL DIARY

Bromo, Paralayang dan Secangkir Kopi


Reported by: https://app.warera.io/user/6a08cdddf2e77e8d5a69d4e7

Jawa Timur – Suhu politik di Jakarta pasca pergantian kabinet kemarin benar-benar menguras energi. Setelah berhari-hari berada di ruang konferensi pers yang pengap, saya butuh istirahat. Saya butuh suasana baru untuk melepas penat ini dan tidak bisa hanya istirahat di kamar kos yang sempit.

Dengan cepat saya mengemasi satu ransel, mengganti pakaian dengan jaket tebal dan melangkah menuju terminal. Dengan budget yang terbatas, pilihan saya jatuh pada bus malam antarkota yang sudah melegenda, Rosalia Indah, dengan rute menuju Jawa Timur.

Duduk di kursi bus sambil menatap lampu-lampu jalan tol di balik kaca jendela menjadi semacam terapi tersendiri. Deru mesin bus malam itu membawa saya menjauh dari bisingnya ibu kota menuju sejuknya kota Malang.


Sesampainya di sana, tujuan pertama saya di pagi buta adalah Gunung Bromo. Berdiri di lautan pasir ditemani kabut pagi adalah sebuah anugerah yang luar biasa. Angin dingin yang menusuk tulang langsung menyambut wajah saya. Melihat keindahan kawah yang berasap dan bukit-bukit savana yang membentang luas, hiruk-pikuk pekerjaan mendadak hilang. Di tempat ini, yang tertinggal hanyalah kekaguman pada keindahan dan keheningan alam.


Setelah puas menjelajah Bromo, rute saya berlanjut. Menjelang malam, saya bergeser naik ke kawasan Paralayang di Kota Batu. Suhu merosot semakin tajam, menembus belasan derajat. Dari atas bukit ini, hamparan kerlap-kerlip lampu kota Malang dan Batu terlihat seperti hamparan bintang di tengah kota.

Untuk mengusir hawa dingin, saya menepi ke sebuah warung kopi (warkop) sederhana di sekitar. Saya memesan secangkir kopi hitam panas. Sang pemilik warkop, seorang pria paruh baya yang ramah, menyeduhkan kopi sambil mengajak saya mengobrol. Udara yang membeku di Bukit Paralayang membuat obrolan kami mengalir begitu hangat.

Dari obrolan ringan soal cuaca dan turis, saya iseng melempar pertanyaan tentang situasi pemerintahan Indonesia. Kang Warkop itu hanya tertawa kecil sambil mengaduk kopinya.

"Ah, Mas, mau presidennya ganti tiap minggu atau kabinetnya ribut di atas sana, besok pagi saya tetap harus bangun jam empat buat rebus air," jawabnya santai.

"Buat orang kecil kayak kita, yang penting harga beras aman, cari makan nggak dipersusah. Urusan elit, biar mereka aja yang pusing."

Kalimat sederhana dari penjual kopi itu membuat saya tersenyum. Realita Indonesia yang sesungguhnya memang ada di sini, di warung-warung pinggir bukit, di tengah masyarakat yang tetap menjalani hidup dengan apa pun yang terjadi di ibu kota. Udara dingin Paralayang Batu dan secangkir kopi hitam ini berhasil menjernihkan pikiran saya.


The world is too big to stay in one place.


Others Article:

https://app.warera.io/article/6a3847338de831bf20ffe4d0

https://app.warera.io/article/6a35979b684eaf9597549b54

https://app.warera.io/article/6a354031eebcd331bc6b9710

🔴TRAVEL DIARY: Bromo, Paralayang dan Secangkir Kopi | War Era