Rakyat Indonesia yang saya cintai,
Ada luka lama dalam sejarah bangsa kita yang terus mengikuti perjalanan generasi demi generasi.
Berkali-kali, mereka yang ingin menguasai tanah air kita menyadari satu kenyataan: Indonesia tidak pernah bisa ditaklukkan ketika rakyatnya berdiri bersatu. Karena itu, mereka memilih jalan lain. Mereka memecah belah kita. Mereka mengadu saudara dengan saudara, kampung dengan kampung, dan sesama anak bangsa satu sama lain. Mereka membuat kita lebih curiga kepada sesama rakyat Indonesia daripada kepada mereka yang ingin menguasai negeri ini.
Tragedi terbesar dalam sejarah kita bukanlah kedatangan penjajah ke tanah air ini. Tragedi terbesar adalah ketika sesama anak bangsa dipaksa saling berhadapan dan saling melukai.
Hari ini, ketika bangsa kita merasakan pahitnya konflik dan perpecahan, saya mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk mengingat pelajaran itu.
Ketika seorang Indonesia mengangkat tangan terhadap sesama Indonesia, tidak ada pemenang. Seorang ibu kehilangan anaknya. Seorang anak kehilangan ayahnya. Sebuah keluarga kehilangan masa depannya. Merah Putih tidak ternoda oleh darah musuh, melainkan oleh darah anak-anak bangsanya sendiri.
Ingatlah para pendahulu kita yang bermimpi tentang Indonesia yang merdeka. Mereka tidak mengorbankan segalanya agar kita mewarisi kebencian. Mereka tidak berjuang agar bangsa ini terpecah. Mereka berjuang agar kita dapat hidup sebagai satu bangsa yang bebas, bermartabat, dan bersatu.
Kita memiliki laut yang sama, langit yang sama, sejarah yang sama, dan masa depan yang sama. Apa pun perbedaan yang ada di antara kita, tidak ada yang lebih berharga daripada persaudaraan sebagai sesama rakyat Indonesia.
Karena itu, pada hari ini saya memohon kepada seluruh rakyat Indonesia: pilihlah perdamaian. Pilihlah rekonsiliasi. Pilihlah Indonesia.
Jadilah generasi yang mengakhiri lingkaran perpecahan yang telah menghantui sejarah bangsa ini selama berabad-abad.
Biarlah anak cucu kita kelak mengenang masa ini bukan sebagai saat Indonesia hancur oleh tangannya sendiri, melainkan sebagai saat ketika rakyat Indonesia menemukan kembali persatuan dan harapannya.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa melindungi setiap jengkal tanah air yang kita cintai.
Satu Nusa. Satu Bangsa. Satu Indonesia.